Bola Internasional no image

Published on November 14th, 2021 | by author

0

Piala Dunia Qatar 20 Tahun Mitos Kutukan Sang Juara Bertahan

Turnamen sepakbola terakbar Piala Dunia 2022 sebentar lagi akan diselenggarakan. Kali ini Qatar terpilih menjadi tuan rumah, menggantikan Rusia yang telah sukses menyelenggarakan perhelatan akbar ini pada 2018 lalu. Kala itu, Perancis berhasil keluar sebagai juara dunia untuk kedua kalinya.

Di Piala Dunia Qatar kali ini, Perancis sebagai juara bertahan dari Piala Dunia 2018, dihantui mitos kutukan juara bertahan yang pernah menimpa pada empat episode sebelumnya. Bahkan Perancis pernah merasakan sendiri kutukan juara bertahan itu.

Nah, inilah catatan sejarah kutukan yang menimpa sang juara bertahan tersebut. 

Catatan sejarah kutukan juara bertahan ini bermula pada Piala Dunia 2002 yang berlangsung di dua negara Asia, yaitu Jepang dan Korea Selatan. Perancis yang saat itu berstatus sebagai juara bertahan, secara mengejutkan kalah di laga pembuka melawan tim Senegal. Sebagai juara bertahan, Perancis terpuruk di babak penyisihan dan tidak mampu bersaing dengan Uruguay juga Denmark. Tersingkirnya Prancis ini menjadi awal mula catatan cerita kutukan sang juara bertahan.

Kutukan itu menimpa Italia pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. De Azzuri yang sukses menjuarai Piala Dunia 2006, secara menyakitkan langsung tersingkir di fase babak penyisihan, meski cuma satu grup dengan Slovakia, Paraguay, dan Selandia Baru. Italia yang berstatus sebagai juara bertahan dan juga negara unggulan pada edisi ini hanya mampu meraih 2 poin, hasil bermain imbang melawan Paraguay dan Selandia Baru, sedangkan pada pertandingan terakhir secara menyakitkan dikalahkan Slovakia dengan skor 3-2.

Spanyol yang sedang dalam periode emas dan merajai sepakbola selama delapan tahun juga tidak luput dari hantaman kutukan pada Piala Dunia, yakni pada tahun 2014. Berangkat ke Brasil dengan status juara dunia 2010 dan masih berisi para pemain dengan skill tinggi, di babak penyisihan Spanyol hanya mampu bermain imbang melawan Australia, dikalahkan Chili 2-0, bahkan dibantai Belanda dengan skor 1-5. Tim matador seakan luluh lantak dengan kutukan yang menimpanya dan tersingkir secara tragis di babak penyisihan.

Jerman menjadi korban keempat kutukan juara bertahan. Menyandang predikat sang juara bertahan dan berperingkat satu FIFA, Die Panser tak bisa berbuat banyak pada ajang Piala Dunia 2018 yang diselenggarakan di Rusia musim kemarin. Mereka tersingkir di fase grup oleh negara non unggulan. Tim kuat Jerman diyakini mampu melewati babak penyisihan dengan mudah, mengingat Die Panser tergabung di grup F bersama Swedia, Meksiko, dan Korea Selatan. Ketiga tim tersebut bukanlah tim unggulan, di mana secara kualitas levelnya masih di bawah skuad hebat Jerman yang pada episode sebelumnya pernah membantai Brazil 7-1. 

Tapi kekalahan pada pertandingan pertama melawan Meksiko seolah menjadi tanda kutukan juara bertahan itu bakal menimpa Jerman. Sempat ada keyakinan jika kutukan itu tak berlaku bagi jerman, setelah pada pertandingan kedua berhasil mengalahkan Swedia dengan skor 2-1. Tapi ternyata di pertandingan ketiga Jerman dibantai 2-0 oleh Korea Selatan. Seakan mimpi buruk kutukan juara bertahan itu menjadi kenyataan, Jerman tersingkir di babak pertama Piala Dunia untuk pertama kali dalam sejarah keikutsertaannya.

Di Piala Dunia Qatar 2022 nanti, tepat dua puluh tahun setelah Perancis menciptakan mitos kutukan juara bertahan. Dengan kembali diselenggarakannya perhelatan tersebut di benua Asia, akankah Perancis sebagai juara bertahan sekaligus sebagai pencipta catatan mitos mengerikan itu mampu menghapus mitos kutukan sang juara bertahan? Ataukah Perancis akan kembali tertimpa kutukan tersebut untuk kedua kalinya? Kita tunggu saja.


About the Author



Comments are closed.

Back to Top ↑
  • Categories